Dipublikasikan pada 2 Juli 2026

Realitas, Akal, dan Tolak Ukur Kebenaran: Kelas Colligium (Pertemuan Ke-VI)

Epistemologi Pengetahuan: Realitas, Akal, dan Tolak Ukur Kebenaran

Pengetahuan merupakan instrumen fundamental yang dimiliki manusia untuk memahami realitas di sekitarnya. Di sisi lain, pengetahuan juga merupakan hasil dari proses penafsiran manusia terhadap realitas tersebut. Karena setiap individu memiliki cara pandang, pengalaman, dan landasan berpikir yang berbeda, penafsiran terhadap suatu kenyataan dapat melahirkan pemahaman yang beragam. Kondisi ini menunjukkan bahwa pemahaman manusia tidak selalu sepenuhnya merepresentasikan realitas sebagaimana adanya.

Berangkat dari kenyataan tersebut, muncul pertanyaan mendasar dalam kajian epistemologi: bagaimana seseorang dapat memastikan bahwa pengetahuan yang dimilikinya benar? Di sinilah epistemologi memainkan peran penting sebagai cabang filsafat yang mengkaji sumber, proses, dan validitas pengetahuan. Melalui epistemologi, manusia diajak untuk memahami bagaimana pengetahuan diperoleh sekaligus menentukan tolok ukur yang dapat digunakan untuk membedakan pengetahuan yang benar dari pengetahuan yang keliru. Dengan demikian, setiap keyakinan, pandangan hidup, maupun ideologi memiliki landasan yang dapat dipertanggungjawabkan secara rasional.

Secara umum, manusia memperoleh pengetahuan melalui dua instrumen utama, yaitu pancaindra dan rasio. Namun, keduanya bukanlah instrumen yang sepenuhnya bebas dari kemungkinan kesalahan. Pancaindra dapat mengalami ilusi atau kekeliruan dalam menangkap objek, sedangkan rasio dapat menghasilkan kesimpulan yang keliru apabila proses penalarannya tidak dilakukan secara tepat. Kesadaran akan keterbatasan tersebut kemudian melahirkan pandangan skeptisisme. Salah satu tokohnya, Pyrrho, mempertanyakan apakah manusia benar-benar mampu memperoleh pengetahuan yang bersifat pasti. Menurutnya, apabila alat yang digunakan untuk mengetahui saja dapat mengalami kekeliruan, maka kepastian pengetahuan menjadi sesuatu yang patut dipersoalkan.

Persoalan epistemologi tidak hanya menjadi perdebatan dalam ranah filsafat, tetapi juga memiliki implikasi yang luas dalam kehidupan beragama. Tidak sedikit orang membangun keyakinannya tanpa melalui proses pencarian, pengujian, dan verifikasi pengetahuan yang memadai. Akibatnya, terjadi lompatan dari penerimaan keyakinan menuju pengamalannya tanpa didukung fondasi intelektual yang kokoh. Dalam kondisi demikian, praktik keagamaan berpotensi kehilangan makna karena tidak bertumpu pada pemahaman yang mendalam. Dengan kata lain, keimanan sebagian besar manusia belum sepenuhnya mencapai tingkatan keimanan yang bersifat epistemik.

Sikap skeptis juga tampak dalam pemikiran René Descartes. Ia memulai pencarian pengetahuan dengan meragukan segala sesuatu, termasuk kesaksian pancaindra dan kemampuan akal. Akan tetapi, melalui proses keraguan tersebut, Descartes menemukan satu kepastian yang tidak dapat disangkal, yakni keberadaan dirinya sebagai subjek yang berpikir. Keraguan itu sendiri menjadi bukti adanya aktivitas berpikir, yang kemudian dirumuskan dalam ungkapan cogito ergo sumaku berpikir, maka aku ada. Berbeda dengan tradisi filsafat modern yang berangkat dari subjek yang berpikir, epistemologi Islam menempatkan realitas sebagai titik tolak pengetahuan yang selanjutnya dipahami melalui kemampuan akal.

Pandangan skeptisisme Pyrrho kemudian mendapat kritik dari Murtadha Muthahhari. Menurutnya, ketika seseorang menyatakan bahwa pancaindra dan rasio selalu salah, pada saat yang sama ia sebenarnya telah mengakui adanya pengetahuan yang benar sebagai ukuran untuk menilai kesalahan tersebut. Sebab, tidak mungkin seseorang menyebut suatu pengetahuan sebagai keliru tanpa terlebih dahulu memiliki standar kebenaran. Dengan demikian, kesadaran akan adanya kesalahan justru menunjukkan bahwa manusia memiliki kemampuan untuk mengenali kebenaran.

Bagi Muthahhari, pengetahuan manusia memang terdiri atas pengetahuan yang benar dan pengetahuan yang salah. Akan tetapi, akal memiliki kapasitas untuk menguji serta membedakan keduanya melalui proses refleksi dan penalaran yang benar. Oleh sebab itu, keberadaan kesalahan tidak meniadakan kemungkinan manusia memperoleh pengetahuan yang benar. Sebaliknya, keberadaan kesalahan justru menegaskan adanya standar objektif yang dapat dijadikan tolok ukur dalam menilai kebenaran.

Perdebatan mengenai sumber pengetahuan kemudian melahirkan dua aliran besar dalam sejarah filsafat, yaitu empirisme dan rasionalisme. Kaum empiris berpendapat bahwa pengetahuan berasal dari pengalaman indrawi dan interaksi manusia dengan alam. Alam menjadi ruang pertama bagi manusia untuk memperoleh data empiris yang kemudian diolah menjadi pengetahuan melalui proses observasi dan eksperimen. Bahkan, sebagian penganut empirisme cenderung menolak sumber pengetahuan di luar pengalaman empiris sehingga mempertanyakan keberadaan Tuhan yang tidak dapat ditangkap secara langsung oleh pancaindra.

Sebaliknya, kaum rasionalis berpandangan bahwa sumber utama pengetahuan terletak pada rasio. Menurut mereka, akal memiliki prinsip-prinsip dasar yang memungkinkan manusia memperoleh pengetahuan yang bersifat universal dan pasti. Perbedaan pandangan antara empirisme dan rasionalisme pada akhirnya bermuara pada pertanyaan yang sama, yaitu apakah pengetahuan yang benar benar-benar dapat diperoleh, bagaimana cara mencapainya, serta apa ukuran yang dapat digunakan untuk membedakan antara kebenaran dan kesalahan. Hingga saat ini, pertanyaan-pertanyaan tersebut tetap menjadi inti pembahasan dalam epistemologi sekaligus menjadi dasar bagi manusia dalam memahami realitas secara lebih utuh.



#BRIM KN

Dari Pesantren Menuju Peradaban