Empirisme, Rasionalisme, dan Proses Abstraksi dalam Epistemologi Islam: Kelas Colligium (Pertemuan Ke-XI)
Empirisme, Rasionalisme, dan Proses Abstraksi dalam Epistemologi Islam
Diskusi pada pertemuan ke-11 BRIM Collegium berfokus pada perbandingan antara empirisme, rasionalisme, serta posisi epistemologi Islam dalam memahami proses lahirnya pengetahuan.
Kaum empiris berpendapat bahwa pengetahuan diperoleh melalui pengalaman indrawi. Dalam menarik kesimpulan, mereka selalu berpijak pada pengalaman konkret dan tidak melampaui hal-hal yang bersifat partikular. Bagi kaum empiris, rasio hanya berfungsi sebagai alat pengelola pengetahuan, terutama dalam bentuk memori dan asosiasi. Rasio belum mencapai tingkatan abstraksi yang lebih tinggi, melainkan sekadar menghubungkan berbagai pengalaman yang telah dialami sebelumnya. Namun, karena tidak berlandaskan prinsip universal, proses asosiasi ini berpotensi melahirkan berbagai bias dalam memahami realitas.
Dalam epistemologi Islam, alam dipahami sebagai sesuatu yang bersifat partikular. Alam menjadi sumber pengalaman awal yang dapat ditangkap oleh pancaindra manusia, kemudian diolah lebih lanjut oleh rasio.
Berbeda dengan kaum empiris, kaum rasionalis memandang bahwa pengetahuan berasal dari rasio yang telah ada dalam diri manusia (innate idea). Dengan demikian, rasio tidak sepenuhnya bergantung pada pengalaman empiris. Menurut pandangan ini, alam bersifat dinamis dan terus berubah, sedangkan ide-ide rasional memiliki sifat yang tetap dan universal. Oleh karena itu, sesuatu yang bersifat tetap tidak mungkin sepenuhnya bersandar pada sesuatu yang senantiasa berubah.
Epistemologi Islam menawarkan perspektif yang berbeda. Pengetahuan dipahami berawal dari alam, kemudian ditangkap oleh pancaindra, dan selanjutnya diproses oleh rasio hingga menghasilkan ide ilmiah. Ide ilmiah pada tahap awal masih bersifat partikular, terikat oleh ruang dan waktu, serta dapat mengalami perubahan. Sebagai ilustrasi, segelas minuman hangat yang disajikan pada pukul 09.00 akan kehilangan sifat hangatnya seiring berjalannya waktu. Hal ini menunjukkan bahwa objek-objek empiris bersifat dinamis dan tidak permanen.
Rasio memiliki peran penting dalam proses pembentukan pengetahuan. Salah satu fungsinya adalah melakukan kategorisasi, yakni mengelompokkan berbagai objek berdasarkan karakteristik tertentu. Fungsi berikutnya adalah abstraksi, yaitu proses menghilangkan ciri-ciri partikular suatu objek untuk memperoleh konsep yang lebih universal.
Pada tingkatan yang lebih tinggi terdapat proses tajrid (التجريد), yang berarti keterlepasan atau kemandirian. Pada mulanya, rasio bergantung pada objek-objek material yang ditangkap oleh pancaindra. Namun melalui proses tajrid, rasio mampu melepaskan diri dari bentuk-bentuk material tersebut sehingga dapat memahami konsep, makna, dan hakikat yang bersifat universal.
Melalui pembahasan ini, BRIM Collegium mengajak peserta untuk melihat bahwa epistemologi Islam tidak menempatkan pengalaman empiris dan rasio sebagai dua hal yang saling bertentangan, melainkan sebagai tahapan yang saling melengkapi dalam perjalanan manusia memperoleh pengetahuan.
#BRIM KN
Dari Pesantren Untuk Peradaban