Dipublikasikan pada 14 Juni 2026

BRIM Collegium of Islamic Thought & Literacy part 3 Menelaah Relasi Pengetahuan, Ideologi, dan Perilaku Manusia


BRIM Collegium of Islamic Thought & Literacy: Menelaah Relasi Pengetahuan, Ideologi, dan Perilaku Manusia pada Pertemuan Ketiga

Pertemuan ketiga dalam rangkaian kegiatan BRIM Collegium of Islamic Thought & Literacy kembali menghadirkan diskusi intelektual yang mendalam mengenai fondasi cara berpikir manusia dalam memahami realitas. Pada sesi ini, peserta diajak untuk mengkaji berbagai persoalan mendasar yang berkaitan dengan alam, manusia, masyarakat, sejarah, serta kaitannya dengan pembentukan pandangan dunia (worldview) seseorang.

Diskusi diawali dengan pembahasan mengenai alam sebagai salah satu objek penting dalam filsafat dan pemikiran Islam. Pemateri menjelaskan bahwa gerak dan aktivitas manusia tidak selalu berlangsung secara alami dan netral, melainkan sering kali dipengaruhi oleh berbagai bentuk kekuasaan pengetahuan (power of knowledge) yang membentuk cara manusia memahami dan merespons realitas. Dalam konteks ini, muncul pertanyaan-pertanyaan filosofis mengenai hakikat alam: apakah alam bersifat material atau nonmaterial, serta bagaimana hukum-hukum yang mengatur keberlangsungannya.

Pembahasan kemudian berlanjut kepada manusia sebagai entitas yang memiliki karakteristik berbeda dari alam. Manusia tidak dapat dipahami semata-mata sebagai bagian dari objek material, karena di dalam dirinya terdapat dimensi jiwa yang menjadikannya memiliki kedudukan dan pembahasan tersendiri. Sementara itu, masyarakat juga memiliki ruang kajian yang khas, yaitu kehidupan sosial beserta berbagai dinamika yang menyertainya.

Dalam sesi tersebut dijelaskan bahwa cara pandang seseorang terhadap dunia dibentuk oleh setidaknya empat unsur utama, yaitu pemahamannya tentang alam, manusia, sejarah, dan masyarakat. Keempat unsur ini saling berhubungan dalam membentuk worldview seseorang. Bahkan, cara seseorang membaca dan menafsirkan sebuah teks juga berpengaruh terhadap cara pandangnya, yang pada akhirnya turut membentuk pandangan dunianya secara keseluruhan.

Selanjutnya, peserta diajak untuk memahami bahwa setiap perbuatan manusia memiliki dua dimensi yang saling berkaitan, yaitu dimensi ilmu (pengetahuan) dan psikologi. Pada dimensi psikologi terdapat berbagai unsur seperti ego, nafsu, dan emosi yang turut memengaruhi tindakan seseorang. Oleh karena itu, perilaku manusia tidak hanya ditentukan oleh apa yang diketahuinya, tetapi juga oleh kondisi psikologis yang ada dalam dirinya.

Pembahasan ini kemudian dikaitkan dengan fenomena yang sering ditemukan dalam kehidupan sehari-hari, yakni adanya ketidaksesuaian antara ideologi yang diyakini seseorang dengan perilaku yang ditampilkannya. Sebagai contoh, seseorang dapat mengaku menjadikan Islam sebagai ideologinya, namun dalam praktik kehidupan sehari-hari belum sepenuhnya mencerminkan nilai-nilai Islam tersebut.

Menurut pemaparan dalam diskusi, terdapat beberapa kemungkinan yang menyebabkan terjadinya kondisi tersebut. Pertama, ideologi diterima secara turun-temurun atau melalui proses pewarisan tanpa adanya penghayatan dan pemahaman yang mendalam. Kedua, pemahaman terhadap ideologi tersebut belum mencapai tingkat yang kokoh dan matang. Padahal, pemahaman manusia idealnya terus berkembang hingga mencapai tingkat keyakinan dan kesadaran yang lebih tinggi.

Untuk mencapai tingkatan tersebut, diperlukan proses tazkiyatun nafs atau penyucian jiwa. Proses ini menjadi penting karena keselarasan antara ilmu dan kondisi psikologis tidak dapat terbentuk secara otomatis. Seseorang mungkin telah memiliki pemahaman yang baik secara intelektual, tetapi apabila aspek psikologisnya belum siap dan belum terdidik dengan baik, maka perilakunya belum tentu sejalan dengan nilai-nilai yang diyakininya.

Sebagai penutup, pemateri memberikan gambaran mengenai materi yang akan dibahas pada pertemuan-pertemuan berikutnya. Kajian akan mulai memasuki ranah epistemologi dengan mengangkat sejumlah pertanyaan mendasar, seperti: Apa hakikat pengetahuan? Mungkinkah manusia mengetahui kebenaran? Alat apa saja yang dapat digunakan untuk memperoleh pengetahuan? Dari mana sumber pengetahuan berasal? Selain itu, peserta juga akan diajak untuk menelaah berbagai tahapan pengetahuan dan persoalan-persoalan epistemologis lainnya yang menjadi fondasi bagi bangunan pemikiran Islam.

Melalui pertemuan ketiga ini, BRIM Collegium of Islamic Thought & Literacy terus berupaya menghadirkan ruang belajar yang mendorong peserta untuk berpikir kritis, reflektif, dan sistematis dalam memahami berbagai persoalan mendasar yang berkaitan dengan manusia, pengetahuan, dan kehidupan.


BRIM Khatamun Nabiyyin

Dari Pesantren Untuk Peradaban