Dipublikasikan pada 25 Juni 2026

Aku dan Keraguan ala Pyrrho: Catatan dari Kelas Epistemologi BRIM (Pertemuan IV)

Aku dan Keraguan ala Pyrrho: Catatan dari Kelas Epistemologi BRIM (Pertemuan IV)

Pada pertemuan keempat "BRIM Collegium of Islamic Thought and Literacy", diskusi epistemologi diawali dari sebuah pertanyaan yang tampak sederhana namun sangat mendasar: mengapa manusia ingin mengetahui sesuatu?" Pertanyaan ini kemudian membawa peserta pada tema yang berkaitan dengan keraguan ala Pyrrho dan pencarian manusia terhadap kebenaran.

Pemateri menjelaskan bahwa pondasi utama epistemologi sebenarnya terletak pada "fitrah manusia", yaitu rasa ingin tahu. Epistemologi menjadi sesuatu yang niscaya karena manusia secara alami memiliki kecenderungan untuk mencari, bertanya, dan memahami. Dengan kata lain, keinginan untuk mengetahui bukanlah sesuatu yang dipelajari belakangan, melainkan bagian dari hakikat manusia itu sendiri.

Karena itu, ketika seseorang tidak mencintai ilmu atau menolak proses pencarian pengetahuan, sesungguhnya ia sedang melawan salah satu fitrah terdalam dalam dirinya. Rasa ingin tahu bukan sekadar pilihan, melainkan kebutuhan eksistensial manusia.

Lebih jauh, rasa ingin tahu merupakan sesuatu yang mutlak dalam kehidupan manusia. Bahkan untuk mengingkari pengetahuan sekalipun, seseorang tetap membutuhkan pengetahuan. Untuk menyatakan "saya tidak tahu" atau "saya ragu", seseorang terlebih dahulu harus mengetahui bahwa dirinya berada dalam kondisi tidak tahu atau ragu. Di sinilah letak paradoks yang menarik dalam epistemologi: manusia tidak dapat sepenuhnya keluar dari lingkaran pengetahuan.

Dalam konteks inilah perintah pertama yang diturunkan Tuhan adalah "iqra'" (bacalah). Perintah tersebut menunjukkan bahwa manusia tidak memiliki alasan untuk menjauhi ilmu. Manusia memang lahir dalam keadaan tidak mengetahui apa pun, tetapi Tuhan telah menyediakan perangkat untuk memperoleh pengetahuan, yaitu pendengaran, penglihatan, dan berbagai potensi lainnya. Fasilitas tersebut bukan hanya anugerah, tetapi juga amanah yang harus dimanfaatkan secara optimal sebagai bentuk syukur kepada-Nya.

Selain membahas dasar-dasar pengetahuan, pertemuan ini juga menyinggung pentingnya memiliki "growth mindset" dalam proses belajar. Salah satu kunci untuk maju dalam menuntut ilmu adalah keyakinan bahwa kemampuan berpikir dan memahami sesuatu dapat terus berkembang. Keraguan tidak seharusnya menjadi alasan untuk berhenti belajar, melainkan menjadi titik awal untuk mencari jawaban yang lebih baik.

Diskusi kemudian bergerak pada problem yang banyak ditemukan dalam kehidupan masyarakat modern, terutama di era media sosial. Salah satu persoalan terbesar umat saat ini adalah berubahnya ukuran kebenaran. Kebenaran sering kali tidak lagi dinilai berdasarkan kesesuaiannya dengan fakta dan realitas, melainkan berdasarkan jumlah orang yang menyetujuinya. Sesuatu dianggap benar karena memperoleh banyak suara, banyak "likes", atau banyak dukungan.

Padahal, banyaknya pendukung tidak otomatis menjadikan suatu pernyataan benar. Karena itu, peserta diajak untuk mulai meninggalkan pola pikir bahwa popularitas identik dengan kebenaran. Pertanyaan yang lebih penting adalah: "apa sebenarnya yang disebut kebenaran, dan apa tolok ukurnya?"

Dari sinilah pembahasan memasuki wilayah yang lebih filosofis. Pemateri menjelaskan bahwa realitas pengetahuan bukanlah sesuatu yang sederhana. Dalam perspektif epistemologi, "kebenaran objektif" dipahami sebagai kesesuaian antara apa yang ada dalam pikiran dengan realitas yang sesungguhnya. Realitas memiliki keberadaan di luar pikiran manusia dan menghasilkan konsekuensi atau efek yang nyata.

Sementara itu, ide atau konsep yang ada dalam pikiran memiliki karakter yang berbeda dari realitas eksternal. Ketika suatu ide tidak sesuai dengan realitas yang sebenarnya, maka terjadilah kesalahan. Persoalan epistemologis yang kemudian muncul adalah: bagaimana manusia dapat memastikan bahwa ide yang dimilikinya benar-benar memiliki sandaran pada realitas?

Dalam pembahasan epistemologi, pengetahuan didefinisikan sebagai hadirnya gambaran tentang sesuatu atau tentang realitas eksternal di dalam pikiran manusia. Namun pertanyaan berikutnya adalah: melalui apa manusia memperoleh pengetahuan tersebut?

Menurut materi yang disampaikan, manusia memiliki dua instrumen utama untuk mengetahui kebenaran, yaitu "pancaindra" dan "rasionalitas". Keduanya berperan penting dalam proses memperoleh pengetahuan. Akan tetapi, pancaindra memiliki keterbatasan. Ia dapat keliru, tertipu, atau menghasilkan persepsi yang tidak selalu sesuai dengan kenyataan. Oleh sebab itu, manusia tidak bisa hanya bergantung pada pengalaman indrawi semata, melainkan juga membutuhkan kemampuan rasional untuk menguji dan menilai informasi yang diterimanya.

Menjelang akhir pertemuan, diskusi turut menyinggung salah satu pandangan yang berkembang dalam tradisi pemikiran Barat modern. Dalam beberapa teori, Tuhan dipahami bukan sebagai realitas objektif yang independen, melainkan sebagai konstruksi atau produk pikiran manusia yang berfungsi memberikan ketenangan psikologis. Pandangan ini menjadi salah satu contoh bagaimana perbedaan asumsi dasar dalam epistemologi dapat melahirkan kesimpulan yang sangat berbeda mengenai realitas, manusia, dan keberadaan Tuhan.

Pertemuan keempat ini menunjukkan bahwa pembahasan epistemologi bukan sekadar diskusi abstrak tentang teori pengetahuan. Ia sesungguhnya berangkat dari pengalaman paling manusiawi: rasa ingin tahu, keraguan, dan pencarian akan kebenaran. Sebagaimana tema yang diangkat, "Aku dan Keraguan ala Pyrrho", keraguan bukanlah akhir dari perjalanan intelektual. Justru dari keraguan yang sehat, manusia didorong untuk terus bertanya, berpikir, dan mendekat kepada kebenaran yang lebih kokoh.


BRIM Khatamun Nabiyyin

Dari Pesantren untuk Peradaban